Kata hijrah memiliki dua arti. Hijrah dapat diartikan sebagai proses perpindahan dari suatu tempat ke tempat yang lebih baik. Selain itu, hijrah juga dapat diartikan sebagai proses perubahan dari suatu kondisi menuju kondisi yang lebih baik. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai hijrah sebagai proses perubahan dari suatu kondisi menuju kondisi yang lebih baik.
Hijrah adalah sebuah upaya keras memperbaiki kualitas hidup menjadi diri yang lebih taat terhadap perintah-Nya dan senantiasa berusaha dekat kepada-Nya. Namun dalam proses hijrah ini memang tidaklah mudah, tentu terdapat ujian dan tantangan di dalamnya. Salah satu tantangan terbesar dalam hijrah justru terdapat pada diri sendiri, yaitu nafsu. Jika seseorang tidak mampu melawan hawa nafsu, maka sesuatu yang benar dikatakan keliru dan yang salah dianggap benar.
Nafsu dalam Perspektif Islam
Dalam Al-Qur’an beberapa kali dibahas mengenai nafsu. Sebagian besar ayat dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa nafsu mendorong kepada keburukan. Namun, ternyata setelah ayat-ayat tersebut dicermati, akan ditemukan bahwa nafsu dibagi menjadi 3 bentuk yang masing-masing memiliki kecenderungan yang berbeda. Apa saja 3 bentuk nafsu tersebut? mari kita bahas penjelasan singkatnya berikut ini.
1. Nafsu Ammarah
۞ وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٥٣
Artinya : “Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Yusuf [12]: 53)
Nafsu ammarah adalah nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat kejahatan dan melanggar aturan Allah SWT. Nafsu ammarah biasanya mengajak pada hal-hal negatif seperti sombong, bakhil, dengki, marah, dan hal negatif lainnya yang jika dibiarkan dapat merugikan dirinya dan lingkungan sekitar. Apabila nafsu ammarah tidak dikendalikan, maka ia dapat menyebabkan pelakunya berbuat dosa.
2. Nafsu Lawwamah
وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ ٢
Artinya : “Aku bersumpah demi jiwa yang sangat menyesali (dirinya sendiri).” (Q.S Al-Qiyamah [75]: 2)
Nafsu lawwamah cenderung sering menyalahkan dirinya sendiri. Nafsu lawwamah memiliki kecenderungan kepada penyesalan, putus asa, kemasan, keraguan, dsb.
Apabila seseorang terlalu mendengarkan nafsu lawwamah, maka dia akan menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri secara berlebihan. Selain itu, jika seseorang tidak mengendalikan nafsu lawwamah, maka ia akan merasa jauh dari rahmat Allah SWT. Padahal sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa kita dilarang untuk berputus asa dari rahmat Allah. Karena sejatinya rahmat Allah melingkupi seluruh makhluk-Nya.
3. Nafsu Muthmainnah
Kata muthmainnah secara bahasa memiliki arti tenang dan tentram. Sedangkan nafsu muthmainnah adalah jiwa yang tenang dan tentram. Nafsu muthmainnah memiliki karakter suka beribadah dan berbuat baik kepada sesama. Ia selalu tenang dalam menerima semua ketetapan Allah SWT, baik itu kabar gembira ataupun musibah. Nafsu muthmainnah senantiasa memerintahkan pemiliknya untuk mengingat Allah. Apabila nafsu muthmainnah terdapat pada diri seseorang, maka ia telah ridha dengan segala ketetapan Allah dan Allah pun ridha terhadapnya.
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ٢٧ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ ٢٨فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ ٢٩وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْࣖ ٣٠
Artinya : “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S Al-Fajr [89]: 27-30)
Walaupun nafsu ammarah dan lawwamah cenderung kepada keburukan, bukan berarti kedua hal tersebut dihilangkan. Akan tetapi kedua nafsu tersebut harus tetap dikendalikan. Terutama dalam proses hijrah, kita harus pandai mengendalikan hawa nafsu yang kita miliki. Walau berat tetaplah semangat dan jangan menyerah kepada kebaikan. Terakhir, yang lebih penting dari itu adalah untuk menjaga kesucian niat kita dalam berhijrah. Mari kita niatkan berhijrah untuk menggapai ridho-Nya bukan untuk mencari validasi manusia.
Wallahu a’lam bishawab.
